Bandarlampung,(Gemamedia.co) – Pimpinan Pusat (PP) Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) resmi melantik Pimpinan Wilayah (PW) Fatayat NU Lampung masa khidmat 2026–2031 di Ballroom Radisson Hotel, Bandar Lampung, Minggu (13/9/2026).

Pelantikan tersebut menjadi momentum peneguhan komitmen kepengurusan baru PW Fatayat NU Lampung dalam menjalankan amanah organisasi selama lima tahun ke depan. Prosesi pelantikan dihadiri Ketua PWNU Lampung KH Puji Raharjo beserta jajaran, unsur Forkopimda, pimpinan DPRD Provinsi Lampung, badan otonom dan lembaga NU, organisasi kepemudaan (OKP), serta Pimpinan Cabang Fatayat NU dari berbagai daerah di Provinsi Lampung.

Dalam sambutannya, Pelaksana Tugas (Plt) PP Fatayat NU, Dewi Winarti menyampaikan apresiasi terhadap soliditas kader Fatayat NU Lampung yang ditunjukkan dengan hadirnya 15 Pimpinan Cabang Fatayat NU dalam momentum pelantikan tersebut.

Menurutnya, kekuatan Fatayat NU Lampung tidak hanya terletak pada struktur organisasi, tetapi juga pada kekompakan kader dan dukungan berbagai pemangku kepentingan.

“Ini sebenarnya yang membuat Fatayat Lampung jadi luar biasa,” ujar Dewi yang disambut tepuk tangan dan sorakan para kader.

Dewi juga menyapa Dewan Pembina Fatayat NU Lampung, Chusnunia atau yang akrab disapa Mbak Nunik, dengan sebutan khas di lingkungan Fatayat NU, yakni “Sahabat”.

Ia berseloroh bahwa sambutannya dibuat singkat karena sebelumnya telah mendapatkan banyak arahan dan mentoring dari Chusnunia.

“Jadi kenapa sambutan beliau pendek? Karena sudah dimentori lima jam sebelumnya. Tadi beliau sampaikan,” katanya disambut gelak tawa peserta.

Dewi mengatakan, kehadiran berbagai unsur pemerintahan, organisasi kepemudaan, mitra dan stakeholder dalam pelantikan menjadi indikator kuat bahwa Fatayat NU Lampung memiliki modal kolaborasi yang besar untuk menjalankan program selama lima tahun mendatang.

BACA :  Ratusan Kader Fatayat NU Lampung Timur Antusias Ikuti Women Empowerment

Ia pun mengapresiasi dukungan Pemerintah Provinsi Lampung terhadap Fatayat NU.

Menurutnya, dukungan penuh pemerintah sangat dibutuhkan agar program-program pemberdayaan perempuan dan penguatan kader dapat berjalan secara maksimal.

“Kalau tadi minta Pak Gubernur tolong di-full support lima tahun, kita semua mendengarkan dan beliau mengangguk-angguk tadi,” ujar Dewi.

Ia juga memberikan apresiasi kepada kepengurusan PW Fatayat NU Lampung periode sebelumnya di bawah kepemimpinan Sahabat Wirda.

Dewi menilai kepemimpinan sebelumnya telah meninggalkan capaian yang baik, terutama dalam hal kaderisasi, pelaksanaan program, serta pertumbuhan organisasi dan Garfa.

Karena itu, ia berharap kepengurusan baru di bawah kepemimpinan Maulidah Zauroh dapat meneruskan sekaligus meningkatkan capaian tersebut.

“Tantangannya harus lebih naik lagi. Kaderisasi jalan, program jalan, Garfa pun tumbuh subur di Lampung,” katanya.

Dewi juga menyoroti penguatan struktur kelembagaan Fatayat NU Lampung yang telah dilantik. Ia berharap berbagai lembaga di bawah Fatayat NU dapat bergerak memberikan pelayanan nyata kepada masyarakat.

Di antaranya LKT3A, Fatima Zahra, Lembaga Bahtsul Masail, Lembaga Fordaf dan Koperasi Yasmin.

Menurutnya, keberadaan lembaga tersebut harus menjadi kekuatan taktis dalam menerjemahkan program Fatayat NU ke dalam bentuk pelayanan langsung.

“Kenapa muncul lembaga di Fatayat NU, padahal sudah ada bidang? Karena di lembaga inilah bentuk layanan praktisnya,” jelasnya.

Ia mencontohkan, persoalan kekerasan terhadap perempuan dan anak dapat ditangani melalui LKT3A, penguatan peran dai perempuan melalui Fordaf, serta layanan ekonomi melalui koperasi.

BACA :  Walikota Eva Dwiana Kunjungi Gudang Logistik Pemilu KPU Kota Bandar Lampung

Karena itu, Dewi meminta seluruh bidang dan lembaga dapat bersinergi agar pelayanan organisasi kepada masyarakat berjalan maksimal.

Memasuki masa kepengurusan baru, Dewi berpesan agar Fatayat NU tidak hanya kuat secara struktur, tetapi juga mampu menjadi rumah bersama yang aman, nyaman dan kondusif bagi perempuan.

Menurutnya, perempuan harus merasa tidak sungkan untuk datang, bergabung dan mendapatkan manfaat dari keberadaan Fatayat NU.

“Yang paling penting dari esensi itu sendiri bagaimana Fatayat NU bisa menjadi rumah bersama yang aman, yang nyaman, yang kondusif bagi semua perempuan,” tegasnya.

Ia berharap perempuan yang berada di lingkungan Fatayat NU dapat merasa terlindungi, terberdayakan dan memiliki ruang untuk berkontribusi.

Dengan demikian, Fatayat NU benar-benar hadir dan menyapa perempuan di seluruh wilayah Provinsi Lampung.

Dewi juga mengingatkan bahwa tantangan perempuan di era modernitas semakin besar. Karena itu, Fatayat NU harus mampu menjaga nilai, tradisi dan kultur Nahdlatul Ulama sekaligus mempersiapkan kader perempuan yang berkualitas.

“Fatayat NU tidak ingin perempuan-perempuan hanya kuat di ruang publik. Tapi dia juga harus kuat di ruang domestik,” ujarnya.

Menurutnya, kualitas kader perempuan tidak hanya terlihat ketika berada di atas panggung atau ruang publik, tetapi juga tercermin dari perannya di lingkungan keluarga.

Ia berharap Fatayat NU mampu melahirkan perempuan yang “berilmu amaliyah dan beramal ilmiah”.

Lebih lanjut, Dewi mendorong agar semakin banyak kader perempuan Fatayat NU yang mengambil peran strategis dalam berbagai bidang, termasuk politik dan pemerintahan.

Ia menyebut Lampung telah memiliki sejumlah kader perempuan yang berkiprah di ruang publik, termasuk di lembaga legislatif.

BACA :  Tol Bakter Buka Komunikasi Kepada Msyarakat 24 Jam

Menurut Dewi, kesempatan bagi perempuan harus dibuka lebih luas, namun kesempatan tersebut harus diiringi dengan peningkatan kualitas diri.

“Jangan pernah kita bicara menuntut tapi tidak pernah belajar. Jangan kita meminta tapi tidak pernah berkarya,” katanya.

Ia menegaskan bahwa perjuangan memperluas ruang perempuan harus berjalan beriringan dengan kapasitas, kompetensi dan karya nyata.

Dewi berharap Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Fatayat NU Lampung nantinya mampu menghasilkan struktur program yang kuat dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat, sekaligus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak.

Ia optimistis Fatayat NU Lampung mampu menjalankan amanah tersebut karena memiliki struktur organisasi dan kaderisasi yang kuat.

Menutup sambutannya, Dewi mengajak seluruh kader untuk memaknai pengabdian kepada Fatayat NU sebagai bagian dari ibadah.

“Kalau tadi Mbak Nunik mengawali dengan kata cinta, maka saya akan menutup bahwa cinta itu adalah ibadah. Cinta kita kepada Fatayat NU adalah ibadah kita kepada Fatayat NU. Cinta kita kepada Hadratusy Syaikh Ulama adalah ibadah kita kepada Nahdlatul Ulama,” tuturnya.

Dewi kemudian menutup sambutan dengan pantun yang disambut meriah peserta pelantikan.

“Naik perahu menuju Kalianda,
Membawa bekal bersama saudara.
Fatayat Lampung mari berkarya,
Berdaya untuk umat, mengabdi untuk bangsa.”

Pelantikan PW Fatayat NU Lampung masa khidmah 2026–2031 tersebut diharapkan menjadi awal penguatan gerakan organisasi dalam lima tahun mendatang, khususnya dalam bidang kaderisasi, pemberdayaan perempuan, pelayanan masyarakat, serta kolaborasi dengan pemerintah dan berbagai stakeholder di Provinsi Lampung. (yla)