Bandarlampung (gemamedia)
Ketua Fraksi PKS DPRD Provinsi Lampung, Yusnadi, menilai pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 harus menjadi momentum penting untuk memperbaiki kualitas perencanaan pembangunan dan pengelolaan APBD Provinsi Lampung, Jumat (3-7-2026)

Menurut Yusnadi, data ekonomi yang akurat tidak boleh hanya berhenti sebagai laporan statistik, tetapi harus menjadi dasar penyusunan kebijakan yang benar-benar menyentuh kebutuhan rakyat, terutama UMKM, petani, pekerja informal, pelaku usaha kecil, dan keluarga rentan.

“Fraksi PKS mendukung penuh Sensus Ekonomi 2026. Tetapi kami ingin menegaskan, data jangan berhenti menjadi angka. Data ekonomi harus menjadi dasar APBD yang jujur, tepat sasaran, dan berpihak pada rakyat,” ujar Yusnadi.

Ia menyoroti isu tentang Pelaksanaan SE2026 khusus nya mengenai pentingnya data akurat yang membangun ekonomi, termasuk keterangan bahwa 8.619 petugas BPS diterjunkan untuk mendata seluruh aktivitas ekonomi di 15 kabupaten/kota hingga akhir Agustus 2026. Lampung juga mencatat realisasi pencacahan sekitar 21,16 persen hingga akhir Juni.

Yusnadi menilai capaian tersebut positif. Namun, menurutnya, pekerjaan besar justru dimulai setelah data terkumpul. Pemerintah daerah harus mampu menerjemahkan data tersebut menjadi kebijakan konkret pada APBD, mulai dari belanja infrastruktur, program UMKM, pengurangan kemiskinan, peningkatan PAD, penguatan sektor pertanian, hingga penciptaan lapangan kerja.

“Kalau datanya akurat, maka kita bisa tahu sektor mana yang benar-benar hidup, UMKM mana yang perlu dukungan, wilayah mana yang butuh intervensi, dan belanja apa yang paling berdampak. APBD tidak boleh disusun berdasarkan asumsi atau rutinitas, tetapi harus berbasis fakta lapangan,” tegasnya.

BACA :  Dr. Salim Bagikan 2500 Paket Sembako di Bandarlampung

Senada dengan itu, Anggota Komisi III DPRD Provinsi Lampung dari Fraksi PKS, Heni Susilo, menegaskan bahwa data yang valid dan kebijakan fiskal yang jujur merupakan tumpuan penting bagi pembangunan ekonomi Lampung yang berkelanjutan.

Menurut Heni, Sensus Ekonomi 2026 yang sedang berlangsung, baik melalui pengisian mandiri secara daring maupun pendataan lapangan dari pintu ke pintu oleh petugas hingga Agustus 2026, harus dimanfaatkan pemerintah daerah sebagai dasar penyusunan kebijakan yang lebih presisi.

“Data yang akurat dan kebijakan fiskal yang jujur penting menjadi tumpuan pembangunan ekonomi berkelanjutan. Data yang valid akan menjadi dasar menyusun perencanaan, menentukan prioritas, juga memastikan anggaran benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat,” ujar Heni.

Heni menjelaskan, data ekonomi yang akurat akan membantu pemerintah mengidentifikasi potensi daerah, tingkat kemiskinan, pengangguran, produktivitas sektor unggulan, hingga kebutuhan infrastruktur secara lebih tepat.

“Dengan data yang akurat, pemerintah akan terbantu dalam mengidentifikasi potensi daerah, tingkat kemiskinan, pengangguran, produktivitas sektor unggulan, hingga kebutuhan infrastruktur secara lebih tepat,” kata Heni.

Karena itu, Heni menilai pengelolaan fiskal daerah harus dilakukan secara jujur, terbuka, dan berpihak kepada kepentingan masyarakat. Menurutnya, APBD tidak boleh hanya menjadi dokumen administratif tahunan, tetapi harus menjadi alat untuk memperkuat ekonomi rakyat.

BACA :  Selaras Dalam Perjuangan, PKS Bandar Lampung Siap Menangkan Anies

“Fiskal yang jujur akan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan menguatkan ekonomi yang inklusif,” tegas Heni.

Yusnadi juga mengingatkan bahwa isu data ekonomi berkaitan langsung dengan kejujuran fiskal daerah. Ia menilai APBD harus transparan dalam menggambarkan kemampuan pendapatan, kebutuhan belanja, beban pembiayaan, termasuk pekerjaan infrastruktur yang masih menjadi tanggungan daerah.

“Kejujuran fiskal itu penting. Rakyat berhak tahu kemampuan keuangan daerah, prioritas belanja, dan sejauh mana APBD menjawab kebutuhan dasar masyarakat. Jangan sampai data ekonomi sudah lengkap, tetapi belanja daerah tetap tidak berubah dan tidak menyasar masalah utama,” kata Yusnadi.

Ketua Fraksi PKS mendorong Pemprov Lampung menyiapkan dashboard ekonomi daerah berbasis hasil Sensus Ekonomi 2026. Dashboard tersebut perlu memuat peta UMKM, sektor usaha dominan, sebaran tenaga kerja, basis pajak dan retribusi, wilayah dengan potensi ekonomi baru, serta kaitannya dengan kemiskinan dan ketimpangan.
Menurut Yusnadi, data itu juga harus digunakan untuk memperkuat basis pendapatan daerah secara adil, bukan sekadar menaikkan pungutan. Pemerintah perlu memastikan peningkatan PAD tidak membebani rakyat kecil, tetapi lahir dari perluasan basis ekonomi, kepatuhan yang sehat, layanan publik yang baik, serta iklim usaha yang kondusif.

BACA :  Waketum FKPPI Bamsoet: FKPPI Siap Kawal dan Sukseskan Pileg serta Pilkada Serentak 2024

“PAD yang kuat harus lahir dari ekonomi yang sehat. Jangan sampai rakyat kecil dan UMKM dibebani, sementara potensi besar tidak tergarap. Data Sensus Ekonomi harus membantu pemerintah membedakan mana yang perlu difasilitasi, mana yang perlu diberi insentif, dan mana yang memang menjadi potensi penerimaan daerah,” ungap Ketua Majelis Pertimbangan Daerah PKS Lampung Timur.

Oleh karena itu, Aleg PKS Dapil Lampung Timur ini menyampaikan beberapa rekomendasi. Pertama, Pentingnya menyusun dashboard hasil Sensus Ekonomi 2026 sebagai basis perencanaan APBD. Kedua penting untuk memetakan UMKM, sektor informal, koperasi, pelaku usaha mikro, dan sektor unggulan daerah. Ketiga, menghubungkan data ekonomi dengan program pengentasan kemiskinan, penciptaan kerja, dan belanja infrastruktur. Ke-empat, menggunakan data untuk memperkuat PAD secara adil, transparan, dan tidak membebani kelompok rentan. Kelima, membuka ruang koordinasi antara BPS, Bappeda, Bapenda, OPD teknis, DPRD, perguruan tinggi, dan pelaku usaha.

“Fraksi PKS akan mengawal agar Sensus Ekonomi 2026 benar-benar menjadi fondasi kebijakan pembangunan Lampung. Data harus menjadi jalan menuju APBD yang lebih jujur, ekonomi yang lebih inklusif, dan pelayanan publik yang lebih terasa bagi rakyat,” pungkas Yusnadi.

Loading