Pesisir Barat (gemamedia)
Matahari pagi perlahan meninggi ketika barisan peserta didik MTS dan SMA Asy-Syafiiyah, Kecamatan Pesisir Tengah, Kabupaten Pesisir Barat, mulai memenuhi halaman sekolah, Senin (17/8/2026). Seragam yang dikenakan tampak rapi. Barisan disiapkan, pandangan diarahkan ke depan, sementara suasana perlahan berubah hening. Pagi itu, halaman sekolah menjadi tempat untuk kembali mengingat arti sebuah kemerdekaan.

Tepat pukul 08.48 WIB, upacara peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dimulai. Suasana yang sebelumnya dipenuhi persiapan berubah menjadi khidmat. Setiap peserta mengikuti rangkaian upacara dengan tertib, terlebih ketika pasukan pengibar bendera mulai mengambil posisi.

Langkah para anggota paskibraka tampak mantap. Gerakan yang dilakukan secara serempak menunjukkan hasil latihan yang telah mereka jalani selama kurang lebih satu bulan. Tidak hanya ketepatan langkah dan barisan, beberapa variasi gerakan turut ditampilkan sehingga prosesi pengibaran Sang Merah Putih berlangsung lebih dinamis tanpa mengurangi kekhidmatan upacara.

Bagi peserta didik, momen tersebut bukan sekadar rutinitas tahunan. Ada penghormatan terhadap perjuangan yang menjadi alasan Merah Putih dapat berkibar bebas di halaman sekolah.

BACA :  Prodi Sistem Komputer IIB Darmajaya Raih Hibah Bantuan Kerja Sama Kurikulum dan Implementasi MBKM Kemendikbud RI 2021

Amalia Sabilla Mukhtar, salah satu tenaga pendidik di SMA Asy-Syafiiyah, melihat kekhidmatan itu sebagai bagian penting dari pembelajaran nilai kebangsaan. “Anak-anak mengikuti upacara dengan khidmat. Mereka juga terlihat antusias mengikuti setiap rangkaian kegiatan. Bagi kami, peringatan kemerdekaan bukan hanya tentang upacara, tetapi juga bagaimana anak-anak memahami pentingnya persatuan dan menjaga keutuhan NKRI,” ujar Amalia.

Pesan tersebut semakin menguat ketika inspektur upacara menyampaikan amanat. Dengan penuh semangat, peserta didik diajak untuk mempertahankan persatuan serta menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pesan itu tidak berhenti pada kehidupan berbangsa dan bernegara, tetapi juga diarahkan pada kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah dan pondok.

Setelah upacara berakhir, ketegangan barisan perlahan mencair. Halaman sekolah yang sebelumnya sunyi kembali dipenuhi suara tawa. Peringatan kemerdekaan berlanjut melalui berbagai perlombaan yang mengajak peserta didik menikmati kemerdekaan dengan cara yang sederhana dan menyenangkan.

Salah satu lomba yang mencuri perhatian ialah permainan menggunakan sarung dan balon. Peserta berusaha menyelesaikan tantangan dengan kemampuan dan ketangkasan masing-masing. Sorak-sorai terdengar ketika peserta berhasil maupun ketika menghadapi kesulitan. Tidak ada jarak antara kalah dan menang; semuanya menjadi bagian dari kegembiraan bersama.

BACA :  Kampus The Best ini Kedatangan 15 Mahasiswa dari Pulau Jawa

Dari perlombaan, suasana beralih menjadi lebih hangat ketika seluruh warga sekolah dan pondok berkumpul untuk menikmati tumpeng bersama. Tumpeng menjadi simbol rasa syukur atas kemerdekaan yang telah diwariskan kepada generasi saat ini. Makanan yang tersaji tidak sekadar disantap, tetapi menjadi pengikat kebersamaan setelah seluruh rangkaian upacara dan perlombaan dilalui.

Kebersamaan semakin terasa ketika kegiatan ditutup dengan makan durian bersama. Percakapan ringan dan tawa mengisi suasana. Peringatan kemerdekaan yang dimulai dengan sikap tegap di bawah kibaran Merah Putih akhirnya berujung pada kebersamaan yang sederhana.

Hari itu, halaman Asy-Syafiiyah bukan hanya menjadi tempat berlangsungnya upacara. Di sana, kemerdekaan diperingati melalui penghormatan, semangat, permainan, rasa syukur, dan kebersamaan.

Merah Putih telah kembali berkibar. Namun, pesan yang menyertainya diharapkan tidak berhenti ketika upacara selesai. Sebab, menjaga kemerdekaan dapat dimulai dari hal-hal sederhana: belajar dengan sungguh-sungguh, menjaga persatuan, menghargai sesama, serta merawat kebersamaan di lingkungan sekolah dan pondok.

Di MTS dan SMA Asy-Syafiiyah, semangat itu tumbuh dari halaman sekolah—dari langkah para pengibar bendera, suara amanat inspektur upacara, tawa dalam perlombaan, hingga kebersamaan di meja makan. Sebuah perayaan sederhana yang mengingatkan bahwa kemerdekaan bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga untuk diisi oleh generasi yang meneruskannya.

BACA :  Dosen Prodi Akuntansi Darmajaya Raih Best Paper pada Ajang Bergengsi International Conference di Vietnam

Penulis: Amalia Sabilla Mukhtar

Loading