Oplus_16908288

Bandarlampung (gemamedia)
(Unila): Hama Penggerek Buah Kopi (PBKo) dan penyakit karat daun selama ini menjadi momok menakutkan yang mampu melenyapkan hingga 50 persen hasil panen petani kopi di Kabupaten Tanggamus, Lampung. Menjawab persoalan krusial tersebut, lima mahasiswa lintas disiplin Universitas Lampung (Unila) menciptakan sebuah terobosan revolusioner: pesawat nirawak (drone) biomimetik berdesain kumbang berbasis kecerdasan buatan (AI) yang mampu mendeteksi ancaman tanaman secara real-time dan presisi.

Inovasi yang lahir dari Program Kreativitas Mahasiswa Karya Inovatif (PKM-KI) Unila 2026 ini beranggotakan Rafidto Farras Achdiar Azizul Haqqi selaku ketua, bersama Ariq Hazel, Gita Rahmania, Bayu Dwi Setiawan, dan Elfi Nuraini Maridah. Di bawah bimbingan dosen Aryanto, S.T., M.T., proposal inovatif mereka yang bertajuk “Inovasi Pesawat Nirawak Agen Cerdas Berdesain Kumbang sebagai Solusi Peningkatan Produktivitas Kopi bagi Petani Rakyat dan Industri Berkelanjutan di Indonesia” sukses mengamankan pendanaan dari Kemendiktisaintek.

Berbeda dengan drone komersial berukuran besar, inovasi mahasiswa Unila ini mengadopsi bentuk fisik kumbang. Desain biomimetik ini dirancang khusus agar drone mampu bermanuver lincah menyelinap di bawah kanopi tanaman kopi yang rapat—area sempit dan rendah yang mustahil dijangkau oleh drone biasa pada umumnya. Didukung oleh sistem AI berbasis teknologi YOLOv8 dan ResNet serta kamera ESP32-CAM, drone ini bertindak sebagai pemindai otomatis yang mendeteksi dini penyakit dan langsung mengirimkan peta lokasi serangan hama secara presisi ke dashboard monitoring melalui sistem IoT.

BACA :  Unila Perkuat Tata Kelola Publikasi Akademik Melalui Uji Publik Panduan Penulisan Buku

Keunggulan radikal dari teknologi ini diakui langsung oleh sang ketua tim pengembang saat menjelaskan efisiensi nyata yang dibawa oleh drone kumbang ini di lapangan.

“Dampak paling signifikan yang langsung dirasakan oleh petani adalah efisiensi waktu yang sangat drastis. Jika sebelumnya mereka harus berjalan kaki berhari-hari menerobos perbukitan terjal hanya untuk memeriksa kesehatan tanaman satu per satu secara manual, kini proses inspeksi tersebut tuntas hanya dalam sekitar 15 menit penerbangan drone kumbang kami,” ujar Rafidto Farras saat diwawancarai pada Minggu, 5 Juli 2026.

Rafidto menambahkan bahwa alat dengan komponen mutakhir seperti mikrokotroler Raspberry Pi Pico dan GPS Ublox M8N ini sengaja dirancang ekonomis, dengan biaya produksi hanya sekitar Rp6–8 juta per unit. “Melalui data uji lapangan ini, kami ingin membuktikan perbedaan kondisi sebelum dan sesudah penggunaan drone, mulai dari percepatan deteksi, pengurangan penggunaan pestisida kimia yang berlebih, hingga peningkatan produktivitas kebun kopi secara nyata,” jelasnya.

Uji lapangan utama yang dilakukan di perkebunan kopi mitra di Kecamatan Ulubelu, Kabupaten Tanggamus, membuktikan bahwa inovasi Unila ini bukan sekadar prototipe laboratorium, melainkan solusi nyata yang menyentuh langsung hajat hidup para petani rakyat.

BACA :  Mahasiswa KKN Unila dan Dompet Dhuafa Lampung Bagikan Alquran dan Iqro di TPA Babussalam

Pak Sumardi (51), salah satu petani kopi mitra di Ulubelu yang terlibat langsung dalam evaluasi pengguna, menyampaikan rasa syukur dan harunya atas kehadiran teknologi ini.

“Bagi kami petani kecil, terlambat tahu ada hama berarti gagal panen, dan itu bisa membuat kami gagal bayar utang pupuk atau menyekolahkan anak. Selama ini kami pasrah kalau karat daun sudah menyebar luas. Kedatangan anak-anak mahasiswa Unila membawa drone kumbang ini benar-benar seperti mukjizat teknologi di ladang kami. Hanya dalam hitungan menit, kami bisa tahu persis pohon mana yang sakit untuk langsung diobati. Penggunaan pestisida jadi jauh lebih hemat dan hasil panen kami terselamatkan. Unila benar-benar hadir membawa solusi nyata bagi kami di bawah,” tutur Sumardi.

“Bagi kami petani kecil, terlambat tahu ada hama berarti gagal panen, dan itu bisa membuat kami gagal bayar utang pupuk atau menyekolahkan anak. Selama ini kami pasrah kalau karat daun sudah menyebar luas. Kedatangan anak-anak mahasiswa Unila membawa drone kumbang ini benar-benar seperti mukjizat teknologi di ladang kami. Hanya dalam hitungan menit, kami bisa tahu persis pohon mana yang sakit untuk langsung diobati. Penggunaan pestisida jadi jauh lebih hemat dan hasil panen kami terselamatkan. Unila benar-benar hadir membawa solusi nyata bagi kami di bawah,” tutur Sumardi, petani kopi mitra di Ulubelu.

BACA :  Peringati Hari Pahlawan, Rektor Serukan Semangat Juang

Meskipun dalam prosesnya tim menghadapi tantangan berat—mulai dari mengintegrasikan berbagai sistem IoT dan multiagent dalam bodi drone yang relatif kecil hingga menjaga kestabilan komunikasi data secara real-time—tim mahasiswa Unila optimis inovasi ini mampu berbicara banyak di level nasional.

Inovasi drone kumbang ini diharapkan dapat bersaing secara nasional dan lolos ke Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) 2026. Lebih dari itu, Unila menargetkan luaran riset ini dapat divalidasi penuh untuk kemudian dikembangkan menjadi produk massal yang siap diterapkan pada skala industri. Langkah konkret ini mempertegas komitmen Unila dalam mendukung transformasi pertanian kopi menuju sistem pertanian presisi yang lebih modern, sejahtera, dan berkelanjutan di Indonesia. [Red]

Loading