Bandarlampung (gemamedia)
(Unila): Semangat belajar sepanjang hayat kembali ditunjukkan dalam pelaksanaan Tes Penerimaan Mahasiswa Baru Pascasarjana Universitas Lampung (Unila), Sabtu, 6 Juni 2026.

Di antara para peserta yang mengikuti seleksi, sosok Heri Andrian menjadi perhatian tersendiri. Di usia 62 tahun, ia tercatat sebagai peserta paling senior dalam seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru Pascasarjana Unila tahun 2026.

Pada usia 62 tahun, pensiunan profesional yang kini aktif di berbagai organisasi ekonomi dan sosial tersebut tetap bertekad melanjutkan pendidikan ke jenjang Doktor (S-3) Program Studi Ilmu Ekonomi Unila.

Heri mengaku keputusannya menempuh pendidikan doktor bukan semata-mata untuk mengejar gelar akademik, melainkan sebagai bentuk komitmen untuk terus belajar, menjaga ketajaman berpikir, serta memberikan inspirasi kepada generasi muda dan lingkungan profesional yang masih aktif berinteraksi dengannya.

Menurutnya, pendidikan merupakan proses yang tidak mengenal batas usia. Selain untuk menambah dan memperbarui pengetahuan, khususnya di bidang ekonomi, ia juga ingin memberikan inspirasi kepada teman-teman dan keluarga bahwa jangan pernah berhenti belajar.

BACA :  FKIP Gelar Ujian Promosi Doktor Pendidikan Ardian Asyhari

“Kita harus terus mengasah kemampuan berpikir dan memperluas wawasan,” ujarnya.

Pria yang pernah berkarier di Auto 2000 hingga memasuki masa pensiun pada tahun 2020 tersebut saat ini masih aktif sebagai pengurus berbagai organisasi, di antaranya Kamar Dagang dan Industri (Kadin), Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI), Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), serta Keluarga Alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unila. Aktivitas tersebut menjadi salah satu alasan yang mendorongnya untuk terus meningkatkan kapasitas diri melalui pendidikan formal.

Memilih Program Studi Doktor Ilmu Ekonomi Unila, menurut Heri, merupakan langkah yang selaras dengan latar belakang keilmuan dan aktivitasnya saat ini yang banyak bersentuhan dengan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Ia melihat masih banyak persoalan yang dihadapi sektor tersebut dan ingin berkontribusi melalui kajian akademik yang lebih mendalam.

“Saya banyak berinteraksi dengan UMKM dan melihat berbagai persoalan yang mereka hadapi, maka itu saya siapkan juga penelitian yang berkaitan dengan pengembangan UMKM,” ungkapnya.

Heri juga mengungkapkan kedekatannya dengan lingkungan akademik Unila menjadi salah satu faktor yang menguatkan pilihannya. Baginya, kembali ke bangku kuliah menjadi kesempatan untuk belajar dari para akademisi sekaligus memperkaya perspektif keilmuan.

BACA :  Unila Hadiri FGD Penyusunan DBOD Lampung 2025

Meski menyadari tantangan belajar di usia yang tidak lagi muda, Heri tetap mempersiapkan diri secara serius menghadapi tes seleksi.

Sejak mendaftar beberapa minggu sebelumnya, ia rutin mempelajari materi Tes Potensi Akademik (TPA), membeli buku-buku latihan, serta mempelajari pola soal yang diujikan.

“Saya tetap belajar dan berlatih. Memang mungkin sudah tidak secepat dulu dalam memahami materi, tetapi yang penting tetap berusaha dan mempersiapkan diri sebaik mungkin,” tuturnya.

Bagi Heri, pendidikan tidak hanya memberikan tambahan pengetahuan, tetapi juga membuka ruang kolaborasi dan jaringan baru yang bermanfaat dalam kehidupan profesional maupun sosial.

Karena itu, ia berpesan kepada generasi muda agar tidak pernah berhenti belajar dan terus mengembangkan diri.

“Teruslah belajar karena dengan belajar kita meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan cara berpikir. Selain itu, pendidikan juga memperluas jaringan pertemanan dan kolaborasi. Dalam kehidupan, bukan hanya knowledge dan skill yang penting, tetapi juga jaringan yang akan membantu kita berkembang,” pesannya. [Riky Fernando]

Loading