Lampung (gemamedia.co)–Mari peduli dan ikut serta mencegah perdagangan manusia!” Itulah ajakan utama yang dimunculkan sepanjang perbincangan di Pendopo Asilo Hermelink, Kamis, 30 Juli 2026. Diskusi terpumpun ini diselenggarakan oleh Komisi Keadilan Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau (KKPPMP), Jaringan Talitha Kum Tanjungkarang, bekerjasama dengan Perkumpulan Damar dengan tema Orang Muda Bergerak Bersama Mencegah Perdagangan Orang di Era Digital. Kegiatan ini ingin membangun kesadaran kritis, kepedulian dan aksi kolaboratif kaum muda dalam mencegah Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).
Moderator diskusi, Yuli Nugrahani, yang juga ketua Komisi Keadilan Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau (KKPPMP) Keuskupan Tanjungkarang, memberikan pengantar diskusi tentang Hari Anti Perdagangan Manusia yang mulai diangkat oleh PBB sejak tahun 2013. Hari ini diperingati secara khusus setiap tanggal 30 Juli sebagai salah satu cara untuk meningkatkan kesadaran terhadap kasus-kasus TPPO yang terus ada dan marak lintas bangsa.
“Diskusi kali ini pun menjadi bagian dari gerakan stop TPPO, untuk membangun kesadaran dan mengajak semua pihak untuk mengambil langkah konkrit dalam menghentikan TPPO,” ujar Yuli.
Sebagai pemantik diskusi, Afrintina, S.H., M.H, direktur eksutif Damar Lampung menyebutkan bahwa anak-anak muda menjadi sasaran empuk dalam kasus TPPO. Dari banyak kasus yang terjadi akhir-akhir ini, orang muda banyak menjadi korban dan sering terjadi dalam berbagai bentuk khususnya berbasis digital.
“Orang muda punya kecenderungan ingin mendapatkan kesuksesan yang serba instan, mudah percaya dengan peluang yang menarik dan menjanjikan. Kurangnya kewaspadaan para muda ini menjadi celah terjadinya TPPO. Masih ditambah lagi dengan permasalahan asmara yang mengingat, menjadikan mereka sebagai sasaran empuk bagi pelaku TPPO,” papar Afrintina.
Kelompok yang rentan menjadi korban kebanyakan adalah dari kalangan ekonomi menengah ke bawah, dan minimnya wawasan literasi digital. Menurut Afrin, hal itu masih ditambah lagi dengan kondisi korban yang merasa malu menjadi korban sehingga tidak terbuka dan segera mencari bantuan.
“Jika ada tawaran kerja, mari tandai ciri-ciri rekrutmen yang mencurigakan seperti menawarkan menawarkan pekerjaan tanpa ada seleksi, meminta KTP/Paspor untuk disimpan, tidak punya alamat kantor yang jelas, dijanjikan gaji besar, meminta untuk merahasiakan pekerjaan, enggan diketahui wajahnya dan sebagainya. Mesti waspada jika ada tawaran seperti itu,” tandas Afrintina.
Pemantik diskusi kedua, Gisela Novena Vivi, Youth Ambassador Talitha Kum dan juga penggiat KKPPMP Keuskupan Tanjungkarang, memberikan beberapa contoh nyata orang-orang muda yang bekerja di luar negeri.
“Bukan hanya bertujuan mendapatkan uang, saat ini orang muda bekerja di luar negerri juga karena ingin jalan-jalan. Minimnya literasi digital dalam menggunakan media sosial akan membuka resiko yang semakin besar menjadi korban,” jelas Gisela.
Lebih lanjut dikatakan, sebelum bekerja, siapapun itu harus mencermati kontrak kerja, harus dibaca dengan teliti sebelum ditandatangani, dan memastikan semuanya aman. Dokumen-dokumen juga harus disimpan lebih-lebih dokumen pribadi seperti KTP, paspor dan visa.
“Kami berharap teman-teman muda mau ikut terlibat aktif dalam kegiatan anti perdagangan manusia. Minimal aktif menjaga diri sendiri, keluarga dan lingkungan terdekat. Tanpa kita sadari orang-orang terdekat kita bisa menjadi pelaku maupun korban. Mari kita bergabung dan berkolaborasi bersama dalam menghentikan perdagangan manusia,” ajaknya.
Dalam diskusi lanjut, pertanyaan-pertanyaan mengemuka tentang penggunakan media sosial, tidak hanya melimpahkan masalah tapi juga bisa menjadi solusi gerakan untuk membuat pesan-pesan positif untuk menandingi tawaran-tawaran yang mengarah pada penipuan, atau pelanggaran martabat manusia. Ajakan untuk terus bergerak dalam kolaborasi juga mengemuka menjadi bagian dari kesimpulan diskusi terpumpun ini. ***

BACA :  Hari Pertama PTM, SMAN 6 Balam Siap Pulangkan Siswa Jika Suhu Lebihi 37 Derajat Celcius

Kontak Person:
Gisela Novena Vivi
+62 857-1505-9048