Hardianti Yoana,Istri Anggota Brimob Korban Kerusuhan Papua

oleh

Binjai (gemamedia)
Siapa orang yang tidak sedih begitu mengetahui anggota keluarganya disakiti orang lain. Hal itulah yang kini dirasakan Hardianti Yoana (25), ibu rumahtangga, warga Komplek Perumahan Asrama Kompi 3 Mako Yon A Satbrimobdasu Kota Binjai.

Kesedihan Yoana sendiri muncul menyusul keadaan suaminya, Briptu Ari Bhakti Putra Torong (27), yang kini terbaring lemah di Ruang ICU RS Bhayangkara Jayapura, Papua

Briptu Ari sendiri merupakan satu dari tiga personel Yon A Satbrimobadasu Kota Binjai yang terluka akibat peristiwa kerusuhan di Waena Expo, Kelurahan Waena, Distrik Heram, Kota Jayapura, Papua, 23 September lalu.

Dalam peristiwa itu, polisi muda tersebut harus dirawat intensif akibat remuk tulang tengkorak dan rahang kanan, karena diduga dilempar dan dipukuli menggunakan nlbatu dan benda keras lainnya oleh sekelompok pemuda yang melakukan demontrasi.

Nasib lebih beruntung justru dialami dua rekannya, yakni Bripka Maulana Sembiring dan Aipda Alsaud Toto Rambe, karena hanya mengalami luka memar pada leher dan mata.

“Saat tahu kondisi suami saya seperti itu, terus terang saya syok. Dalam benak saya, kok tega mereka perlakukan dia seperti itu. Hari itu juga saya telepon orangtua dan mertua,” ungkap Hardianti, saat dikunjungi wartawan di rumahnya, Kamis (26/09/2019) siang.

BACA :  IPM Naik, Bukti Industri Manufaktur Indonesia Makin Baik

Hardianti mengungkapkan, sang suami pergi menjalankan tugas pengamanan di Kota Jayapura, Papua, pada 28 Agustus 2019 lalu. Dalam hal ini, dia tergabung bersama ratusan personel Brimob lainnya pada pemberangkatan gelombang pertama.

Sebelum berangkat, lanjutnya. Sang suami, Briptu Ari Bhakti Putra Torong, sempat meminta izin kepadanya, orangtua dan mertua, para atasan, serta sejumlah rekannya di Mako Yon A Satbrimobdasu Kota Binjai.

“Sebagai istri, sebenarnya saya pribadi tidak rela suami dikirim ke sana. Sebab ada perasaan was-was yang saya rasakan. Apalagi kami baru dikaruniai anak pertama yang saat itu umurnya masih tiga bulan,” terang Hardianti.

Hanya saja dokter muda itu sadar, dia adalah istri dari seorang anggota Brimob. Sehingga Hardianti pun harus senantiasa siap melepas kepergian sang suami untuk menjalankan tugas negara, termasuk resiko terburuk yang akan dialaminya di sana.

“Diawal masa tugasnya di sana, aktifitas suami saya dan rekan-rekannya yang lain relatif normal. Dia bahkan sering kirim video tentang kondisi dan keindahan Kota Jayapura, serta kegiatannya selama di sana,” ujar Hardianti.

BACA :  Cahaya Aceh Mempesona di Negeri Majapahit

Meskipun demikian, Briptu Ari Bhakti Putra Torong mengakui kondisi ketertiban, keamanan, dan tingkat kenyamanan di Kota Jayapura dengan kampung halamannya Kota Binjai, sangat jauh berbeda.

Nahas pada 23 Sepetember kemarin, Briptu Ari Bhakti Putra Torong dan beberapa rekannya diserang sekelompok pemuda saat beristirahat di tengah gelombang aksi demonstrasi.

Akibat kejadian itu, Briptu Ari Bhakti Putra Torong terluka di bagian kepala dan sempat tidak sadarkan diri. Dia kemudian dibawa oleh rekan2nya menuju rumah sakit, bersama.anggota Brimob lainnya yang terluka.

“Sebenarnya kejadian bisa saja dicegah anggota Brimob. Namun SOP mengharuskan mereka untuk tidak melakukan kotak atau perlawanan. Jangankan menembak, menggunakan gas air mata dan watercanon saja dilarang,” terang Hardianti.

Pasca kejadian “mengerikan” itu, Hardianti mengaku setiap jamnya terus melakukan komunikasi secara intensif dengan anggota Brimob yang ada di Kota Jayapura, untuk mengetahui perkembangan kesehatan sang suami.

Dia juga berharap agar anggota Birmob dan aparat keamanan lainnya yang bertugas di Papua, agar senantiasa diberikan keselamatan. Sebab pada dasarnya mereka adalah abdi negara yang semata-mata bertugas untuk menjga keamanan negara.

BACA :  Andi Surya: Di Cirebon, Hak Pakai PT. KAI Tidak Mencerminkan Fakta Yuridis, terbitkan SHM Untuk Rakyat !

“Saya harap, suami segera sembuh, sehingga bisa pulang dan berkumpul lagi dengan keluarga. Sebab saya sudah sangat rindu,” seru Hardianti, sembari menangis memangku anaknya, Ammera Azahra Beru Torong.

Selain itu, dia juga berharap masyarakat Indonesia, terkhusus Papua, dapat kembali damai. Tidak ada lagi kerusuhan yang dapat menyebabkan korban, baik dari pihak aparat keamanan maupin dari warga sipil.

“Pada dasarnya seorang abdi negara itu punya sisi kemausiaan dan tanggungjawab sama dengan warga sipil biasa. Sebab mereka bukan cuma berjuang untuk negara, tetapi juga untuk anak-anak, istri, dan keluarganya,” tukas Hardianti. (sp)