Nukman Manager PT.BMI Bantah Kriminalisasi Buruhnya, Sementara Aksi Demo Buruh Tuntut Perusahaan Bebaskan Pekerja Tersangkut Hukum dengan Perusahaan

oleh

Bandarlampung (gemamedia)
Nukman Amsya Manager HRD & GA PT. Bumi Menara Internusa bantah adanya kriminalisasi terhadap salah satu buruhnya bernama Reni Desmiria.

Dijelaskannya karena Reni merupakan pengurus serikat buruh PT BMI dan giat menyerukan tuntutan melalui perundingan bipartite.

“Persoalannya bukan karena Reni itu aktif di serikat buruh dan melakukan pergerakan menuntut hak – hak buruh,” tepis Nukman melalui seluler, Sabtu (29/06/2019).

Masih sambung Nukman perusahaan memiliki peraturan perusahaan (PP) sebagai pedoman tata tertib dan syarat – syarat kerja di dalam hubungan kerja antara para pekerja dengan PT Bumi Menara Internusa. Dan ini, menurut Nukman, telah mendapatkan pengesahan oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Lampung Selatan.

“Di dalamnya pada pasal 28 tentang hukuman disiplin terhadap sanksi hukuman disiplin jika para pekerja memalsukan/memberikan keterangan palsu kepada perusahaan, termasuk pemalsuan identitas riwayat hidup dan sebagainya saat menandatangani Perjanjian Kerja maka diberikan sansksi Pemutusan Hubungan Kerja,” jelas Nukman.

Sebagai contoh, kata Nukman, pada Desember 2018, seorang pekerja berinisial AO telah menggunakan data serta ijazah dan lainnya atas nama M. Manajemen perusahaan pun, dikatakan Nukman, menerpakan PP tersebut terhadap AO.

“AO telah membuat Surat Pernyataan dengan telah mengakui membuat kesalahan dengan memalsukan berkas lamaran dan atau identitas diri atas nama M. Dan yang bersangkutan bersedia mengundurkan diri dari hubungan kerja dengan perusahaan atas kemauan sendiri,” serunya.

BACA :  Winarni Kukuhkan Enam Ketua Tim Penggerak PKK Desa Di Kecamatan Sidomulyo

Sementara itu, lanjut Nukman, perusahaan baru mengetahui Reni melakukan dugaan pemalsuan serupa pada Januari 2019 lalu dimana saat itu Reni melakukan pendampingan terhadap AO menghadap bagian HRS untuk menanyakan masa kerja terkait THR atas dibuatnya surat pernyataan mengundurkan diri oleh AO atas kemauan sendiri.

“Saat itu Reni membuat pernyataan spontan dan pengakuan tanpa diminta telah mengakui memalsukan Ijazah dan menggunakan ijazah palsu atas nama berinisial RT dari sekolah SMK dengan nomor ijazah DN-12 MK0560513,” ungkap Nukman.

Petugas HRD perusahaan, diakui Nukman, telah mencoba menyelesaikan masalah dengan cara kekeluargaan baik terhadap terduga Reni Desmiria sesuai dengan peraturan perusahaan. Hanya saja, lanjut Nukman, Reni menolak untuk diberikan sanksi dengan tidak menggunakan untuk dilakukan PHK secara sepihak oleh perusahaan dengan kebijakan khusus agar yang bersangkutan membuat surat pengunduran diri atas kemauan sendiri, seperti yang pernah diterapkan terhadap AO sebelumnya.

“Selanjutnya jika bersangkutan masih tetap ingin bekerja di PT BMI disarankan setelah pengajuan tersebut dilakukan, dia bisa membuat surat lamaran pekerjaan yang baru sebagaimana data dan ijazah yang sebenarnya. Tentunya dengan proses dan prosedur sebagaimana yang telah ditentukan perusahaan selama ini,” urainya.

BACA :  Ditengah Pandemi Covid-19, Lampung Selatan Sukses Panen Raya Program Serasi

Reni, dikatakan Nukman justru menantang dan meminta agar PT Bumi Menara Internusa untuk melanjutkan proses hukum sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. “Kami telah memberikan waktu satu minggu untuk Reni sejak pengakuan lisannya. Dan untuk menegakkan peraturan dan ketentuan yang telah ditetapkan, maka perusahaan membuat kebijakan untuk melaporkan saudari Reni Desmiria kepada pihak berwajib pada tanggal 19 Januari kemarin,” seru Nukman.

Untuk diketahui aksi tersebut tak sepenuhnya mendapat tanggapan pro dari sejumlah pekerja. Bahkan, ada yang menilai aksi tersebut justru mengganggu aktivitas para pekerja dan juga tentunya oprasional perusahaan serta ketertiban umum di lingkungan kerja.

“Tak jarang kami pekerja yang masih ingin tetap bekerja mendapat intimidasi. Kami jadi harus berangkat jauh lebih pagi untuk menghindari aksi,” ujar RS (27), salah satu pekerja yang justru kontra atas aksi tersebut.

Dirinya pun berharap agar aksi yang terjadi segera terhenti. “Harapan kita minta perdamaian, yang di luar (massa pendemo) harus mengerti apa yang kita rasakan. Jujur kami khawatirkan demo mengancam menutup perusahaan. Pada dasarnya kenyamanan tergantung kita sendiri. Nama baik perusahaan yang sedikit ternodai harapannya bisa baik kembali,” ucapnya.

BACA :  Jumat Bersih Di Bakauheni, Nanang : Gotong Royong Warisan Leluhur yang Harus Terus di Lestarikan

Senada diungkapkan SM (28), pekerja lainnya yang memilih tetap bekerja. “Padahal dengan sistem kerja sesuai peraturan perusahaan saat ini kami pun sudah puas, enjoy. Justru pendapatan bisa lebih besar dari UMK kalau kita rajin,” ujarnya.

Turut diterangkan, jumlah pekerja yang pro kebijakakan perusahaan jauh lebih banyak dibanding yang kontra dan mengikuti aksi demo. Diterangkan, ada sekitar seribu pekerja yang tetap bekerja di perusahaan yang bergerak di pengolahan seafood tersbut. Sementara yang menolak dan menggelar aksi hanya berkisar puluhan.

“Kalau yang tercatat terakhir yang menolak kebijakan perusahaan sekitar 85 orang, tapi yang benar-benar pekerja sini hanya sekitar 20 orang. Sedangkan kami yang merasa enjoy tetap bekerja ada sekitar seribu orang,” ucapnya.

Ya, kekhawatiran para pekerja kian memuncak lantaran mereka mendapati sentilan bahwasanya massa aksi bakal memboikot para bayer (konsumen perusahaan). Bahkan diduga melakukan sejumlah aksi mengarah provokasi yang mengarah ke hal menyudutkan perusahaan. “Yang kami dengar-dengar begitu,” tambah SM.

Namun, yang cukup disayangkan, sejatinya akar permasalahan yang melatar belakangi aksi bukan lantaran tuntutan status kepegawaian. Melainkan massa menuntut perusahaan agar membebaskan salah satu pekerja yang tersangkut urusan hukum pasca bermasalah dengan perusahaan. (*)