PMII Desak Polda Bertindak Cepat Tangani Kasus Dugaan Pelecehan Seksual di UIN RIL

oleh

Bandarlampung (gemamedia)

Momentum Hari Perempuan sedunia (IWD) 8 Maret 2019 lalu membuat mahasiswa prihatin. Sebab, kasus kekerasan seksual terhadap perempuan masih marak terjadi.

Tak terkecuali di lingkungan kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung (RIL) yang diduga terjadi kasus pelecehan seksual diduga dilakukan oknum Dosen SH terhadap EP, salah satu mahasiswi UIN yang kini tengah ditangani pihak kepolisian.

Ketua PMII komisariat UIN Raden Intan Lampung Dedy Indra Prayoga kepada mengatakan pihaknya mendesak polisi bertindak cepat menangani kasus dugaan pelecehan di UIN tersebut.

“Kami meminta kepada polda Lampung yang menangani kasus ini untuk bergerak cepat dalam menindak kasus yang sudah lama terjadi ini,” tegasnya, Selasa (11/3).

Menurutnya, selain itu PMII juga meminta kepada Lembaga Advokasi Perempuan Damar untuk bersama-sama komitmen mendampingi dan mengawal kasus ini hingga selesai.

“Kami meminta Damar untuk bersama-sama komitmen mendampingi serta mengawal kasus ini,” tandasnya.

Diketahui, seratusan mahasiswa Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung (UIN RIL) aksi demo dalam rangka

BACA :  Pertandingan Charity Game Di Lampung Merupakan Wujud Peduli Sepakbola lndonesia

Aksi digelar mahasiswa yang mengatasnamakan Keluarga Besar mahasiswa UIN Raden Intan Lampung (KBM) bertema aksi solidaritas di lingkungkan kampus tepatnya di depan perpustakaan pusat UIN, Senin (11/3).

Aksi ini dilaterbelakangi oleh maraknya kasus kekerasan seksual yang terjadi terhadap perempuan.

Maraknya persoalan perempuan bisa kita lihat dari data yang tercatat di Komnas Perempuan pada 2014 terdapat 4.475 kasus kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak perempuan, pada 2015 terdapat sebanyak 6.499 kasus, serta tahun 2016 terdapat sebanyak 5.785 kasus dan sedangkan 2017 tercatat ada 2.979 kasus kekerasan seksual di ranah KDRT atau relasi personal serta sebanyak 2.670 kasus di ranah publik.

Merujuk dari data yang dikumpulkan oleh Komnas HAM, lanjutnya, persoalan perempuan semestinya mendapati penangan khusus. Persoalan ini bisa diselesaikan bila manusia mempunyai kesadaran bahwa kekerasan terhadap perempuan adalah sebuah kehinaan yang harus dileburkan.

Catatan kelam dan buruk soal perempuan ini terjadi serupa dilingkungan kampus UIN Raden Intan Lampung.

Tercatat pada 28 Desember 2018 terjadi pelecahan seksual oleh tenaga pendidik terhadap salah satu mahasiswi Fakultas Ushuludin.

BACA :  Empat Menteri Kabinet Kerja Kunjungi Korban Tsunami di Lampung Selatan

Salah satu massa aksi Rohmatul Azizah meneriakan suara perlawanan pada orasinya terhadap siapapun yang melakukan kekerasan terhadap perempuan.

Sedangkan Kordinator Lapangan (korlap) Ahmad Guntur Saputra menyatakan statment mendukung penuh RUU PKS di sahkan ke undang-Undang Dasar dan menghimbau kepada semua laki-laki untuk menghentikan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan, karena menurutnya perempuan adalah Subjek bukan objek.

Aksi ini didukung dengan beberapa bentuk varian aksi berupa penyebaran rilis pembagian seribu bunga dan Orasi perlawanan. (*)