Sengkarut Perjanjian Jual Beli Hingga Tawaran ‘Uang Damai’ dari Polisi

oleh

Bandarlampung (gemamedia)

Sengkarut jual beli tanah yang melibatkan Endang Asnawi berujung laporan ke kepolisian.

Dalam surat laporan bernomor LP/B-124/XII/2017/LPG/SPKT tanggal 18 Desember 2017, Endang Asnawi alias Epeng diduga melakukan tindak pidana penggelapan.

Menurut keterangan Titi Januarsih selaku pelapor, kejadian bermula saat orangtuanya yang bernama Maryanah menandatangani surat kuasa menjual tanah milik Maryanah kepada Epeng pada 24 Oktober 2008.

Dalam perjanjian itu tertera bahwa berapapun hasil yang didapat dari penjualan tanah seluas 25.510 Meter Persegi tersebut, Epeng wajib memberikan ‘bagian’ untuk Maryanah sebesar dua Milyar Rupiah.

Namun sampai saat ini, Epeng baru membayar 800 Juta Rupiah. Meski menurut keterangan dan bukti yang dipunya Titi Januarsih, tanah tersebut telah laku dijual dengan harga lebih dari 10 Milyar Rupiah.

“Semasa hidupnya, orangtua pelapor berulang kali berusaha menagih haknya kepada Endang Asnawi. Namun Endang terus menghindar, sampai akhirnya orangtua pelapor meninggal dunia uang itu belum juga dibayarkan,” kata Van Royen Girsang selaku kuasa hukum Titi Januarsih kepada wartawan di Bandarlampung, Minggu (17/2) malam.

BACA :  KPK tetapkan Agung dan 5 Orang Lainnya Sebagai Tersangka

“Karena yang bersangkutan telah meninggal dunia, maka segala urusan tersebut dilanjutkan oleh anak kandungnya yaitu pelapor (Titi Januarsih). Namun Endang tetap menghindar sampai akhirnya korban melapor ke kepolisian,” lanjut Girsang.

Laporan dimaksud memang telah dibuat pada tahun 2017 namun baru pada tanggal 7 Januari 2019, Polda Lampung menerbitkan surat pemberitahuan perkembangan hasil penyelidikan (SP2HP). Yang pada intinya menyebut laporan tersebut belum cukup alat bukti untuk ditingkatkan ke tahap penyidikan.

“Saya sebagai kuasa hukum melihat adanya kejanggalan disini. Inikan laporan tindak pidana biasa, artinya pembuktiannya tidak sulit. Tapi kenapa butuh satu tahun baru digelar,” kata Girsang.

Terlebih, lanjut dia, sehari sebelum SP2HP diterbitkan, Girsang mencoba menemui penyidik Polda Lampung. Tujuannya, untuk minta diikutsertakan dalam acara gelar perkara.

“Penyidik saat itu meninformasikan bahwa gelar perkara akan dilakukan besok (9 Januari 2019). Namun setelah membaca SP2HP yang diterbitkan di hari yang dimaksud, gelar perkara rupanya sudah dilakukan sejak 31 Desember 2018 tanpa adanya pemberitahuan. Kami selaku kuasa hukum tentu merasa kaget,” jelas Girsang.

BACA :  Razia Operasi Zebra , Polres Way Kanan Amankan Pelaku Penggelapan Mobil

“Saya yakin Pak Kapolda pasti akan mengusut tuntas perkara ini,kami memohon keadilan dari pihak berwajib, jika di Polda Lampung masih belum kami dapat keadilan itu kami terus ke Mabes Polri bila tidak juga kami unjuk rasa dan bila tidak juga dapat keadilan itu maka kami serahkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa untuk mengadilinya,” tegas Girsang.

‘Uang Damai’

Sebelum tanggal 31 Desember 2018, Epeng rupanya sudah mendatangi kediaman Titi Januarsih. Menurut Titi, saat itu Epeng menawarkan 20 Juta sampai dengan 150 Juta Rupiah sebagai ‘uang damai’.

Namun karena merasa hal tersebut tidak sesuai dengan perjanjian yang waktu itu disepakati Epeng dan orangtua Titi, dia lantas menolak tawaran Epeng.

“Terus saat itu dia mengancam kalau saya menolak maka akan menjebloskan saya ke dalam penjara. Karena saat itu dia melihat saya sedang hamil, dia bilang biar saya ngelahirin di dalam penjara. Ada saksi keluarga dari suami saya saat itu,” jelas Titi.

Tak sampai disitu, tawaran ‘uang damai’ juga muncul kembali mendekati waktu gelar perkara. Namun yang mengejutkan, tawaran tersebut didapat dari dua orang yang mengaku penyidik Polda Lampung.

BACA :  Terduga OTT di Lampura Langsung di Boyong Kejarta

“Nama penyidik yang waktu itu menawarkan adalah BK dan PH Pertama BK menelpon tapi tawarannya saya tolak, kemudian baru PH dan tawarannya juga saya tolak,” tegasnya.

Dijelaskan Titi, ‘uang damai’ yang kali itu ditawarkan oleh dua orang yang mengaku penyidik Polda Lampung tersebut lebih besar, yakni 150 Juta Rupiah.

“Inti dari omongan keduanya sama, mau nggak ambil uang dari Epeng, 150 Juta Rupiah. Kalau mau, malam ini juga akan dijemput oleh penyidik untuk mengambil uang tersebut,” pungkas Titi. (Gar)